1. Pemberian ASI eksklusif mempunyai banyak manfaat bagi ibu, antara lain:
a. Mengurangi resiko kanker payudara bagi ibu Penelitian yang dilakukan oleh Martin et al.,(2005) mengevaluasi hubungan antara kejadian kanker payudara pada ibu yang tidak menyusui melalui survei terhadap 4000 wanita dewasa yang telah melahirkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wanita yang menyusui secara eksklusif selama minimal 6 bulan mengalami penurunan risiko terkena kanker payudara. Penelitian lain yang dilakukan oleh Campbell (2013) yang disebutkan dalam Vidayati (2014) juga menyatakan bahwa wanita yang tidak merokok dan menyusui bayinya secara eksklusif selama 6 bulan dapat menurunkan risiko kanker payudara sebesar 4,3%.
b. Mengurangi resiko kanker ovarium dan kanker rahim pada ibu Menurut National Cancer Institute (2013), proses kehamilan dan menyusui memiliki korelasi dengan penurunan risiko kejadian kanker ovarium. Secara fisiologis, ini terkait dengan penghentian proses ovulasi pada wanita yang menyusui atau sedang hamil. Penelitian yang dilakukan oleh Danfort et al.,(2013) sebagaimana disebutkan dalam Vidayati (2014), menunjukkan bahwa wanita yang menyusui bayinya selama 18 bulan mengalami penurunan risiko kejadian kanker ovarium secara signifikan dibandingkan dengan wanita yang tidak menyusui bayinya.
c. Mengurangi resiko osteoporosis pada ibu Menurut La Leche League International (2002) sebagaimana yang dikutip dalam Vidayati (2014), kalsium adalah komponen penting yang mempengaruhi proses pembentukan tulang dan mempertahankan kepadatan tulang. Menyusui bayi secara eksklusif dapat mengurangi risiko osteoporosis pada seorang ibu. Temuan ini didukung oleh penelitian Karlson et al., (2005) yang disebutkan dalam Vidayati (2014), yang menunjukkan bahwa wanita yang menyusui bayinya memiliki kepadatan tulang yang sama dengan wanita yang tidak menyusui bayinya.
d. Mengurangi resiko diabetes maternal Penelitian yang dilakukan oleh Stuebe et al. pada tahun 2005 di Harvard University menemukan bahwa wanita yang menyusui bayinya secara eksklusif memiliki risiko diabetes tipe II yang lebih rendah sebesar 15% dibandingkan dengan wanita yang tidak menyusui. Penemuan ini diperkuat oleh penelitian Schwarz et al. (2010) sebagaimana yang disebutkan dalam Vidayati (2014), yang menunjukkan bahwa proses laktasi berkaitan dengan peningkatan metabolisme glukosa pada ibu, dan wanita yang menyusui bayinya secara eksklusif selama lebih dari satu bulan memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami diabetes mellitus tipe II dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui bayinya.
e. Mengurangi stress dan gelisah pada ibu Penelitian yang dilakukan oleh Groer pada tahun 2005, seperti yang disebutkan dalam Vidayati (2014), membandingkan respon emosional dari tiga kelompok wanita: 88 wanita yang menyusui secara eksklusif, 99 wanita yang tidak menyusui secara eksklusif dan menggunakan susu formula, dan 33 wanita sehat yang tidak melahirkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menyusui secara eksklusif cenderung memiliki mood positif, mengalami peristiwa positif, dan mengalami kejadian stres yang lebih rendah dibandingkan dengan kedua kelompok pembanding lainnya. Selain itu, ibu yang menyusui bayinya juga memiliki tingkat stres dan depresi yang lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui bayinya.
f. Berat badan ibu lebih cepat kembali normal Penelitian yang dilakukan oleh Kac et al. pada tahun 2004 menemukan bahwa wanita yang menyusui bayinya selama 6 bulan mengalami penurunan berat badan rata-rata sebesar 0,44 kg dibandingkan dengan wanita yang hanya menyusui bayinya selama satu bulan. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin lama wanita menyusui bayinya, penurunan berat badan akan menjadi lebih signifikan dibandingkan dengan wanita yang tidak menyusui, sehingga dapat membantu wanita mencapai berat badan yang normal.
g. Membantu proses penundaan kehamilan Selama periode menyusui, kadar prolaktin serum pada wanita yang menyusui bayinya akan meningkat. Proses ini menyebabkan seorang wanita yang menyusui secara eksklusif mengalami amenorea, yaitu tidak adanya menstruasi, karena ovulasi ditunda akibat inhibisi respon ovarium terhadap pelepasan hormon folikel stimulating hormone (FSH). Dampaknya, wanita akan mengalami infertilitas selama sekitar 6 bulan, menjadikan ini sebagai metode penundaan kehamilan secara alami yang dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).
2. Manfaat atau keuntungan pemberian ASI eksklusif juga berpengaruh terhadap kesehatan bayi, antara lain:
a. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi dan mencegah infeksi ASI mengandung berbagai komponen imunologi aktif yang dapat melindungi bayi dari kuman, bakteri, dan virus, serta mampu menurunkan risiko kematian pada bayi baru lahir. Faktor kekebalan tubuh yang terkandung dalam ASI juga berperan dalam mengurangi kejadian penyakit seperti gastroenteritis, neonatal necrotizing enterocolitis, limfoma, penyakit Crohn's, penyakit celiac, dan obesitas selama masa anak-anak. Penelitian oleh Bachrach (2003) dan Hanson & Korotkova (2002) yang dikutip dalam Vidayati (2014) menunjukkan bahwa pemberian ASI bagi bayi dapat memicu produksi antibodi spesifik oleh sel, sehingga membantu melindungi bayi dari penyakit seperti otitis media, penyakit saluran napas, seperti respiratory syncytial virus, dan pneumonia
b. Meningkatkan kecerdasan atau kemampuan kognitif bagi bayi ASI memiliki komposisi yang mengandung nutrisi terbaik bagi bayi baru lahir. Di antara komponen tersebut, terdapat asam lemak omega-3 dan omega-6, yang dikenal sebagai LC-PUFA (Long-Chain Polyunsaturated Fatty Acids). Penelitian yang dilakukan oleh SanGiovanni et al. pada tahun 2000, sebagaimana dikutip dalam Vidayati (2014), menunjukkan bahwa LC-PUFA, termasuk asam docosahexaenoic (DHA) dan asam arachidonic (AA), memiliki hubungan dengan peningkatan ketajaman visual dan kemampuan kognitif pada anak.
c. Mencegah terjadinya konstipasi Komponen protein yang terdapat dalam ASI meliputi whey (lactalbumin) dan kasein, dengan perbandingan sekitar 60:40 pada ASI yang matang. Rasio komposisi ini dianggap ideal dalam pencernaan bayi baru lahir karena protein whey lebih mudah dicerna, memberikan konsistensi feses yang lunak, dan memiliki efek laksatif yang membantu mencegah konstipasi pada bayi.
d. Memberikan stimulasi, rangsangan dan pendidikan bagi bayi Menyusui bukanlah hanya sekedar memberikan nutrisi kepada bayi, tetapi juga merupakan interaksi yang penting antara ibu dan bayi. Proses menyusui melibatkan rangsangan indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan sentuhan. Saat menyusui, disarankan bagi ibu untuk berkomunikasi, bernyanyi, dan berinteraksi aktif dengan bayinya. Ini dapat merangsang perkembangan otak bayi secara holistik, termasuk otak kanan dan otak kiri.
e. Mencegah obesitas pada bayi Komposisi nutrisi dalam ASI sangat kompleks, menjadikannya sumber nutrisi optimal bagi bayi baru lahir hingga usia 6 bulan, yang dapat dilanjutkan hingga usia 2 tahun. Salah satu perbedaannya dengan susu formula adalah kandungan glukosa yang lebih rendah dalam ASI. Penelitian yang dilakukan oleh Frye & Heinrich, 2003, menunjukkan bahwa pemberian ASI secara eksklusif dapat memberikan perlindungan dan mengurangi risiko obesitas pada anak usia sekolah.
Sumber
Nurseha,dkk. 2024. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Dan Menyusui. Nganjuk: Dewa Publishing