Oleh : Yuhani,S.Tr.Keb.,Bdn
IBI Ranting Utara Cabang Bantul
Mudah lelah dan sulit fokus di sekolah? Bisa jadi bukan sekadar kurang tidur.
Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari batas normal. Hemoglobin bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh, jadi saat kadarnya rendah, tubuh lebih mudah lelah. Pada remaja, salah satu penyebab yang paling banyak terjadi adalah kekurangan zat besi. Kabar baiknya, anemia bisa dicegah dan ditangani sesuai penyebabnya.
Mengapa remaja rentan anemia?
Masa pertumbuhan membuat kebutuhan zat besi meningkat untuk membentuk sel darah merah. Pada remaja putri, menstruasi juga membuat tubuh kehilangan darah setiap bulan. Jika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi dari makanan, risiko anemia akan meningkat, terutama ketika menstruasi volume darah banyak yang keluar.
Apa saja penyebabnya?
Anemia tidak selalu disebabkan kekurangan zat besi. Beberapa penyebabnya antara lain:
- Asupan zat besi kurang, atau kehilangan darah saat menstruasi
- Kekurangan vitamin B12 atau folat
- Menstruasi yang banyak atau berkepanjangan
- Infeksi, kecacingan, atau penyakit kronis tertentu
- Pola makan kurang beragam, sering melewatkan makan, atau diet terlalu ketat
- Minum teh atau kopi bersamaan dengan makan, sehingga menghambat penyerapan zat besi dari makanan nabati
Apa saja gejalanya?
Anemia sering dikenal dengan 5L: lesu, lemah, letih, lelah, dan lalai. Gejala lainnya:
- Wajah atau bagian dalam kelopak mata tampak pucat
- Pusing atau mata berkunang-kunang
- Jantung berdebar
- Napas terasa pendek saat beraktivitas
- Sulit berkonsentrasi
Gejala ini tidak selalu berarti anemia, dan anemia ringan bisa tanpa gejala. Untuk memastikan kondisi anemia diperlukan pemeriksaan hemoglobin (Hb).
Berapa batas Hb yang dianggap anemia?
Menurut WHO (2024), remaja disebut anemia jika Hb:
- 12-14 tahun (putra dan putri): di bawah 12,0 g/dl
- ≥ 15 tahun, putri (tidak hamil): di bawah 12,0 g/dL
- ≥ 15 tahun, putra: di bawah 13,0 g/dL
Hb rendah menunjukkan anemia, tetapi belum menunjukkan penyebabnya. Tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan lanjutan bila perlu.
Apa dampaknya jika dibiarkan?
Anemia dapat membuat tubuh mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan menurunkan kemampuan beraktivitas sehari-hari. Bila berlanjut sampai masa kehamilan, anemia berkaitan dengan risiko komplikasi pada ibu dan bayi, termasuk bayi lahir dengan berat badan rendah. Karena itu, mencegahnya sejak remaja penting untuk kesehatan jangka panjang.
Bagaimana cara mencegahnya?
1. Minum Tablet Tambah Darah (TTD). Dalam program Kemenkes, remaja putri usia 12-18 tahun dianjurkan minum 1 tablet per minggu sepanjang tahun. Program ini merupakan program pencegahan anemia yang dilaksanakan di sekolah menengah. Untuk mencegah mual, disarankan agar TTD dikonsumsi dengan minum air putih, setelah makan atau malam sebelum tidur.
2. Makan makanan kaya zat besi.
- Hewani (lebih mudah diserap): daging, ayam, ikan, telur, hati
- Nabati: tempe, tahu, kacang-kacangan, bayam, daun kelor
3. Padukan dengan vitamin C. Jambu biji, jeruk, pepaya, dan tomat membantu penyerapan zat besi dari makanan nabati.
4. Beri jeda dengan teh dan kopi. Jangan minum bersamaan dengan makan atau TTD. Beri jeda setidaknya 1 jam agar penyerapan zat besi tidak terganggu.
5. Jaga kebersihan. Cuci tangan dengan sabun dan jaga kebersihan makanan untuk mencegah infeksi.
6. Hindari diet ekstrem. Makan teratur dengan menu beragam, jangan lewatkan sarapan, cukup tidur, dan rutin bergerak.
Kapan harus ke tenaga kesehatan?
Periksakan Hb di sekolah, Puskesmas, atau fasilitas kesehatan jika kamu sering lemas, tampak pucat, mudah sesak saat beraktivitas, atau menstruasi sangat banyak. Segera cari pertolongan medis jika sesak napas saat istirahat, nyeri dada, atau pingsan. Jika hasilnya anemia, tenaga kesehatan akan mencari penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat. Jangan minum suplemen sembarangan tanpa tahu kebutuhanmu.
Sumber
- World Health Organization. (2024). Guideline on haemoglobin cutoffs to define anaemia in individuals and populations. Geneva: WHO.
- Kementerian Kesehatan RI. (2018). Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur (WUS). Jakarta: Kemenkes RI.
- Kementerian Kesehatan RI. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang.